Thursday, April 26, 2018

5 Buku Sastra yang wajib kalian baca

Halo sobat yang mengagumkan. Kembali lagi diblog aku hehehehe
Kali ini aku bakal merekomendasikan buku sastra yang wajib kalian baca.

Nah sebelum itu. Pasti kalian bingung kenapa aku milih buku sastra, kenapa nggak novel bergenre teenlit atau buku lainnya. Karena sastra itu sangat indah untuk dibaca. Bukan karena puitis saja, melainkan kita bisa memahami sudat pandang yang berbeda. Ini bukan melebih-lebihkan tapi memang kenyataannya hehehehe.
Mari kita mulai.


 Bumi Manusia – Pramoedya Ananta Toer

5 Buku Sastra yang Cocok Untuk Pemula
Salah satu buah karya tetralogi buru milik sastrawan legendaris, Pram berjudul Bumi Manusia ini amat menarik untuk dibaca. Patut diakui, memang perlu ekstra konsentrasi untuk memahami isi ceritanya, namun bisa dijamin, setelah mengerti isi ceritanya, buku ini bakalan bikin kamu jatuh cinta dan kasak-kusuk ke toko buku atau perpustakaan buat nyari karya sastra lain dari Tetralogi Buru.
Bumi Manusia sendiri adalah buku pertama dari kwartet Tetralogi Buru karya Pramoedya Ananta Toer. Pram menulisnya saat menjalani pengasingan di Pulau Buru. Lewat ‘Bumi Manusia’ pembaca dapat melihat situasi serta kondisi masyarakat Indonesia saat berada dibawah jajahan Kolonial Belanda. Selain itu, ia juga mengajarkan betapa keadilan harus diperjuangkan apa pun resikonya. Asyiknya, pelajaran se jarah itu dikemas dalam cerita romantis antara karakter fiksi utama di dalamnya, yaitu Minke dan Annelies.   

 Catatan Seorang Demonstran (by Soe Hok Gie, 1983)

1841575
Pada waktu gua pertama kali membaca buku ini ketika umur 15 tahun, gua betul-betul dibuat malu oleh sosok Soe Hok Gie. Malu karena dalam catatan harian ini gua melihat potret anak muda yang kurang lebih punya latar belakang keluarga dan lingkungan yang mirip sama gua. Tapi pada tahun 50an, ketika Gie masih duduk di bangku SMA, dia sudah membaca dan memahami begitu banyak buku sastra, filsafat, dan sejarah kelas dunia. Sementara waktu itu gua malah sibuk asik main dotA setiap hari, hahaha...
Soe Hok Gie adalah sosok legenda bagi kalangan mahasiswa dan kaum intelektual muda Indonesia dari generasi ke generasi. Dan buku ini adalah potret dari kehidupan seorang idealis yang tetap berpegang teguh dan konsisten pada prinsipnya dari awal hingga akhirnya hayatnya. Sebuah catatan harian dari seorang aktivis mahasiswa tahun 60an yang berani bersuara lantang di tengah masa-masa paling gelap sekaligus paling mencekam dalam sejarah Bangsa Indonesia.
Mungkin bisa dibilang, ini adalah buku yang paling menginspirasi dan berpengaruh sangat besar dalam kehidupan gua. Dari mulai perkembangan intelektual dan emosional gua, sampai pada gagasan-gagasan dan ambisi gua tentang apa yang mau gua lakukan dalam hidup gua. Dalam catatan harian Gie, gua belajar dari kacamata seorang yang begitu gelisah akan ketidakadilan yang dialami oleh bangsanya, gua belajar untuk berani berbicara atas nama prinsip yang benar, gua belajar arti dari kata kejujuran dan integritas.
Buat gue, Soe Hok Gie adalah seorang role model hidup tentang konsep anak muda Indonesia yang cerdas (banget), luar biasa berani, punya prinsip dan integritas, sekaligus mau peduli dan berjuang secara konsisten untuk kemajuan bangsanya. Semoga dia bisa tetap menjadi inspirasi dan kaum intelektual muda untuk setiap generasi, termasuk juga kalian yang membaca artikel ini.

Burung-Burung Manyar (by Y.B Mangunwijaya, 1981)

img0004-45
Buku ini adalah potret masa Indonesia pada jaman peralihan. Kita semua pasti tahu bahwa Indonesia merdeka pada 17 Agustus 1945. Tapi apakah moment kemerdekaan ini langsung diketahui seluruh manusia dari Sabang sampai Merauke secara instan? Jangan dibayangin kemerdekaan di Indonesia itu penuh dengan keriuhan dan kemeriahan, penuh arak-arak dan gegap gempita. Nope! kemerdekaan Indonesia itu tentu diikuti dengan semangat, tapi juga "dirayakan" dengan rasa was-was. Karena meski sudah merdeka, masih banyak banget orang di Indonesia yang tidak tahu bahwa tanah yang dijejakinya sudah bernama Indonesia. Masih banyak lapisan masyarakat yang masih belum tau, belum bisa, dan tidak siap menerima identitas mereka yang baru.
Indonesia pada masa peralihan adalah sebuah babak yang penuh dengan pergulatan identitas. Indonesia "dijajah" Belanda selama 350 tahun, atau mungkin lebih tepatnya "hidup bersama" dengan Belanda selama 3 abad lebih. Makanya sampai Indonesia merdeka pun ada orang belanda tapi pro-Indonesia, dan sebaliknya ada orang indonesia tapi pro-Belanda. Tapi terlepas dari itu, Romo Mangun telah berhasil menulis sebuah kisah Sejarah di masa-masa awal kelahiran bangsa ini dengan sungguh sangat mengesankan, begitu detail, sarat dengan situasi yang dilematis, serta mengajak kita untuk banyak mempertanyakan identitas kita, tujuan hidup kita, dan pastinya dalam memaknai arti sebuah kemanusiaan dan kemerdekaan yang sesungguhnya.
Inilah buku sastra Indonesia yang (menurut gue) betul-betul layak disandingkan dengan karya besar sastra klasik dunia seperti karya-karya Fyodor Dostoyevsky (Rusia), Albert Camus & Victor Hugo (Perancis), von Goethe (Jerman), dan Murakami (Jepang). Untuk lo cewek-cewek yang suka baca buku teenlit atau buku-buku romansa metro-pop, coba deh sesekali baca romansa klasik sastra Indonesia, bisa-bisa ini buku bikin kalian nangis gak berhenti-berhenti sampe satu roll tisue abis semua. 

 Madilog (by Tan Malaka, 1946)

img0002-28
Mungkin masih banyak diantara lo yang belum tau tentang Tan Malaka. Tan Malaka adalah orang pertama yang menulis konsep Republik Indonesia pad sebuah buku berjudul Naar de Republiek Indonesia pada tahun 1925. Buku inilah yang kemudian dibaca oleh Bapak Proklamator kita, Ir.Soekarno dan menjadi salah satu inspirasi bagi kaum muda yang berjuang untuk kemerdekaan Indonesia pada masa itu. Bagi sebagian kaum akademisi dan intelektual, Tan Malaka telah dianggap sebagai the true founding father of Indonesia. Salah satunya adalah Muhammad Yamin yang menjuluki Tan Malaka sebagai "Bapak Republik Indonesia".
Ironis banget karena pergulatan politik di masa lalu, Tan Malaka diusir dari Indonesia, dia pergi keliling dunia dengan menyamarkan identitasnya agar nggak ketahuan polisi internasional, sampai akhirnya dia ditembak mati oleh Tentara Republik yang didirikannya. Tragisnya, nama dia dikucilkan dari Sejarah Indonesia dan bukunya dilarang keras beredar selama puluhan tahun. Lantas buku apa sih yang dia tulis sampai dilarang keras beredar itu? Salah satu buku beliau yang paling fenomenal adalah MADILOG, yang merupakan singkatan dari Materialisme-Dialektika-Logika.
Dalam buku ini, Tan Malaka mengajak kita semua untuk selalu berpikir dengan menggunakan logika, berdialektika dengan cara berpikir yang rasional, terstruktur, dan selalu mengacu pada bukti sebelum akhirnya sampai pada kesimpulan. Kurang keren gimana lagi coba pesan yang ingin disampaikan sang pendiri bangsa ini kepada kita semua? Inilah pesan yang terlupakan dari founding father Indonesia kepada kita semua yang telah mewarisi negara yang dia bangun dengan segala pemikiran, perjuangan, dan bahkan dengan nyawanya sendiri.
Terus terang, buku ini memang bukan buku yang mudah untuk dibaca, apalagi bahasa yang digunakan udah agak jadul. Pada jaman itu memang konsep tulisan berbahasa hampir ga ada satu pun yang mudah untuk dicerna oleh kita sekarang yang hidup di era modern. Tapi tetap saja, buat gue kita semua (harusnya sih) wajib untuk memahami cita-cita luhur dari orang yang berkontribusi besar membangun bangsa Indonesia, yaitu dengan mengutamakan logika dan rasionalitas dalam berdialektika.

Arus Balik (by Pramoedya Ananta Toer, 1995)

arus-balik-pod-pramoedya-ananta-toer-
Setiap negara besar biasanya memiliki Sejarah klasik yang mereka banggakan, katakanlah Italy dengan masa kejayaan Roma yang sangat besar, Mesir dengan kebudayaan ribuan tahun yang diabadikan dengan puluhan piramida-nya, China dengan sejarahnya yang sangat kompleks dalam pergolakan antar dinasti, Jepang pada era Tokugawa yang seru untuk ditelusuri, belum lagi Sejarah klasik India yang begitu memikat sekaligus misterius untuk dikaji.
Nah, Indonesia gimana? Sejarah Klasik Indonesia entah kenapa malah menjadi momok besar bagi kaum pelajar. Dari mulai tuntutan pelajaran buat menghafal nama-nama kerajaan, atribut agama yang melekat pada kerjaan tersebut, nama-nama raja yang panjang dan susah diingat, belum lagi tahun ini-itu yang susah dihafal saking banyaknya. Sistem pengajaran di Indonesia membuat para pelajar jadi membenci sejarah bangsanya sendiri. Konyol kan?
Padahal, kalo kita cermati Sejarah Klasik Indonesia dari sudut pandang lain, kisah dibalik pergolakan berdiri dan runtuhnya kekuasaan di bumi Nusantara ini nggak kalah serunya dengan sejarah klasik di negara lain. Gua yakin masih banyak yang gak nyadar kalo pada masa jayanya Majapahit, Nusantara merupakan kesatuan maritim dan kerajaan laut terbesar di antara bangsa-bangsa beradab di seluruh muka bumi ini.
Nah, dalam buku ini, Pram sebagai salah satu sastrawan terbesar Indonesia akan mendobrak semua paradigma lo tentang sejarah Indonesia yang ruwet, gak menarik, dan membosankan. Buku ini akan membawa lo pada era yang betul-betul menjadi titik nadir yang menentukan sejarah bangsa Indonesia, yaitu masa kejayaan dan runtuhnya Majapahit sampai mulai masuknya penjajah Eropa ke Indonesia. Ditulis dengan narasi yang betul-betul bisa membius kita semua untuk kembali dengan mesin waktu mengarungi arus pasang-surutnya kejayaan Nusantara pada masa lampau. zenius
Segitu dulu ya. Sebenarnya masih banyak lagi buku-buku keren yang wajib kalian baca. Tapi berhubung nanti kebanyakan dan juga kalian pasti bosan hehehehe.
Terlepas dari buku apapun kalian baca.Yang terpenting kalian menyukainya.Dan kalian mempunyai semangat untuk membaca.
Setiap orang mempunyai selera yang berbeda begitu juga dengan hati ini ehhh

Mungkin itu dulu. Sampai jumpa di postingan aku berikutnya.
Salam aksara.

9 comments: